Info
| -
Daftar | Masuk | Anggota

- info game pc - info-gamepc
Jangan membayangkan perang antara Pasukan Diponegoro dengan Pasukan Belanda itu berhadap hadapan seperti lazimnya perang jaman dulu. Ketahui bahwa perang Diponegoro itu dalam bentuk perang Gerilya yang setiap hari ketemu di medan pertempuran. Yang namanya perang gerilya itu tidak pernah tahu kapan terjadinya. Mungkin pasukan Belanda dapat menguasai kota kota atau daerah yang ramai sekitar kraton, tetapi di desa desa dan kampung yang jumlahnya banyak dan tersebar di mana mana , tidak gampang mencari tahu di mana saja tempat berkumpulnya pasukan Pangeran Diponegoro, karena mereka selalu bergerak dan berpindah pindah dari satu kampung ke kampung lain.

Perlu diketahui bahwa sistem penataan pasukan Pangeran Diponegoro dibuat persis seperti pasukan tentara Negara Kekaisaran Ottoman ( Turki ) yang sangat terkenal yang disebut Janisari. Hampir sama seperti pasukan Imam Bonjol itu juga menggunakan sistem penataan pasukan tentara Negara Kekaisaran Ottoman . Jadi pasukan tentara Belanda sangat kerepotan menghadapi tentara pasukan Pangeran Diponegoro dan memerlukan waktu yang tidak sebentar , karena berlangsung perang selama 5 tahun dari tahun 1825 samai 1830.

Ini tentara Janisari dari Kekaisaran Ottoman.

Karena untuk menghadapi perang melawan pasukan Diponegoro yang meluas hampir meliputi jawa Tengah dan Jawa Timur yang begitu luas, maka Belanda merubah sistem perangnya dengan cara mengelabui atau menipu Pangeran Diponegoro , seolah olah Belanda mengajak ingin berdamai dan akan memberi kedudukan Pangeran Diponegoro sebagai raja Mataram. Ada seorang personil Belanda yang fasih berbahasa jawa dan mengenal dekat dengan Diponegoro yang datang membujuk untuk mengadakan perdamaian di Magelang.

Ini gambaran tentara Pangeran Diponegoro berdasarkan lukisan Rd. Saleh Syarib Bustaman.

Menanggapi usulan perdamaian yang ditawrkan oleh Belanda , Pangeran Diponegoro tidak langsung menerima usulan tersebut . Beliau berfikir keras untuk mempertimbangkan usulan tersebut dan mempelajari untung ruginya menerima tawaran yang nampaknya menguntungkan posisinya. Untuk persiapan tersebut , maka Pangeran Diponegoro mengumpulkan pasukannya di desa Metesih dekat Magelang.

Ini gambaran pasukan Pangeran Diponegoro yang berkumpul di Desa Metesih dekat Magelang, menjelang Diponegoro pergi ke Magelang untuk memenuhi undangan perdamaian dari Jenderal H. M. Baron De Kock .

Pada hari Minggu , 28 Maret 1930 , sehari setelah lebaran, suasana kota Magelang masih ramai , terlebih lagi akan ada rencana kedatangan Pangeran Diponegoro ke Magelang untuk memenuhi undangan panglima perang Belanda Jenderal De Kock. Pada waktu perjalanan menuju Magelang . Pangeran Diponegoro diiringi para pengikutnya yang terdiri dari para prajurit pilihan dari desa Metesih ke tempat pertemuan di rumah Residen Kedu di Magelang.

Sebagai persiapan penangkapan Pangeran Diponegoro , sekitar 3 hari seblum hari H Jenderal De Kock telah memerintahkan secara rahasia dua orang perwira infanteri seniornya ( Louis du Perron dan A. V. Michiels ) , untuk mempersiapkan pasukan yang tersembunyi sambil berjaga jaga apabila Pangeran Diponegoro datang berserta para pengikutnya. Dugaan Jenderal De Kock tidak meleset , karena Pangeran Diponegoro memang datang dengan membawa pasukan yg cukup banyak.

Di tempat pertemuan, jenderal de Kock didampingi Residen Kedu Vlack , seorang perwira pengawal De Kock ( Letkol Roest , Mayor F.V.H. A. de Stuers dan penterjemah ahli bahasa Jawa Kapten J. J. Roeps. Sementara pihak Pangeran Diponegoro didampingi oleh tiga orang putranya , penasehat agama, dua pengawal dan seorang panglima perang Basya Mertanegara.

Pada awal pembicaraan Pangeran Diponegoro menyampaikan salam sebagai penghormatan terhadap lawan bicara yang lebih senior , ucapnya :

“Jenderal , Saya hanya sebentar menemui anda untuk kunjungan ramah-tamah ini , sebagaimana adat Jawa setelah bulan puasa. Mereka yang muda pergi mendatangi rumah mereka yang lebih sepuh , untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang dilakukan tahun yang lewat , dalam hal ini Anda , Tuan De Kock adalah pihak yang lebih tua dari saya,” ujar Pangeran Diponegoro mengawali pembicaraan.

Ucapan penuh hormat ini tentu tak akan memengaruhi niat Jenderal De Kock yang sejak awal memang tidak berniat membiarkan Diponegoro pergi begitu saja

Ternyata tanggapan Jenderal De Kock sangat mengejutkan dan diluar dugaan , dia mengatakan :

" Sebaiknya Tuan tidak usah kembali ke Metesih , saya sarankan Tuan tetap di sini bersama kami " , jawab Jenderal De Kock .

Tentu saja Pangeran Diponegoro sangat kaget dan bingung mendapat jawaban tersebut , lantas spontan dia bertanya : " Apa maksud Tuan agar saya tidak kembali ke Metesih , mengapa saya tidak diijinkan kembali dan apa yang harus saya lakukan di sini , apakah berarti saya ditahan ,? " hardik Pangeran Diponegoro dengan nada meninggi .

Suasana menjadi sangat tegang dan mencekam , semua yang hadir dalam pertemuan itu terdiam : " Ada masalah apa Jenderal , saya kan tidak ada masalah dengan Anda , saya juga tidak menaruh kebencian terhadap siapa pun " sambung Pangeran Diponegoro.

Martanegara menyela dan mengusulkan agar masalah politik bisa diselesaikan lain waktu. Namun rupanya Jenderal De Kock tidak menghendaki usulan tersebut.

Dengan tegas De Kock menjawab : " Tidak , terserah kepada Pangeran setuju atau tidak , saya tetap menahan Tuan , saya ingin menuntaskan masalah politik hari ini juga ", potong De Kock dengan nada tinggi.

Pangeran Diponegoro benar benar marah , tetapi situasinya sudah tidak memungkinkan untuk melawan , karena ia sudah merasa terjebak. Saking marahnya Pangeran Diponegoro , ia meremas pegangan tangan pada kursi tempat duduk Diponegoro sampai pecah . Dan ini kursinya :

Ini kursi tempat perundingan Pangeran Diponegoro dengan Jenderal De Kock.

Ini adalah Jenderal Hendrikus Baron De Kock .

Setelah peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro tersebut , selanjutnya beliau dibawa ke Semarang dan dari Semarang beliau dibawa ke Batavia dengan menggunakan kapal Uap SS Van Der capellen dan akhirnya tanggal 8 April 1930 tiba di Batavia dan beliau langsung ditahan di tempat ruang penahanan yang ada di Gedung Stathuis Batavia ( sekarang menjadi Gedung Museum Fatahilah ) .

Pangeran Diponegoro tinggal di sebuah kamar di atas penjara wanita di Stadhuis. Kamar itu awalnya adalah kamar kepala penjara (cipierswoning) di Stadhuis yang harus dikosongkan jika ada tahanan politik berstatus tinggi seperti Pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro ditempatkan di ruang kepala penjara, tak seperti tahanan kriminal lain di penjara bawah tanah yang sempit. Pangeran Diponegoro dianggap tahanan politik berstatus terhormat sehingga diberikan tempat yang layak. Beliau menunggu keputusan sidang Dewan Pengadilan Belanda .

Setelah keputusan Dewan Pengadilan Belanda keluar, Pangeran Diponegoro diputuskan untuk diasingkan ke luar Pulau Jawa tepatnya ke Manado ((1830–1833) kemudian Makassar (1833–1855) karena di Menado dikhawatirkan menjalin komunikasi dengan Kyi Mojo salah satu panglima perang yang menjadi andalan Diponegoro.

Demikian jawaban saya , atas pertanyaan Didik Wijarnako. Kalau ada yang salah atau tidak tepat , tolong dikoreksi.

Ganti game lamamu dengan game-game terbaru, hanya di "Revolusi Gamer". Tersedia game-game murah dan berkualitas. Kunjungi info-gamepc.blogspot.com

(Safei/Gamer)


Didukung oleh

Foto Terkait:


Berikan Komentar

Berkomentarlah yang sopan dan jangan buang-buang waktu untuk melakukan spam. Terimakasih.



 
Blog punya © 2014 info-gamepc
Desain Modification by Ahmad Safei