Makam Penjajah Belanda Kerkoff di Banda Aceh
foto:wikepedia.org
Kerkoff Peucut adalah kuburan prajurit Belanda yang tewas dalam Perang Aceh. Kompleks kuburan ini banyak tersebar di wilayah Indonesia. Salah satunya terletak di kota Banda Aceh, dan sekarang menjadi objek wisata menarik, khususnya bagi wisatawan mancanegara (terutama wisatawan asal Belanda).
Sebagaimana diketahui bahwa Kerajaan Aceh dan rakyatnya sangat gigih melawan Belanda yang memerangi Aceh. Rakyat Aceh mempertahankan Negerinya dengan harta dan nyawa. Perlawanan yang cukup lama mengakibatkan banyak korban di kedua belah pihak.
Bukti sejarah ini dapat ditemukan di pekuburan Belanda Kerkhoff ini. Disini dikuburkan kurang lebih 2000 orang serdadu Belanda, dan termasuk di antaranya serdadu Jawa, Batak, Ambon, Madura dan beberapa serdadu suku lainnya yang tergabung dalam Angkatan Bersenjata Hindia-Belanda. yang kuburannya masih dirawat dengan baik. Hingga saat ini Pemerintah Kerajaan Belanda sangat haru dan menghormati warga Banda Aceh yang merawat dengan rapi kuburan tersebut. Mereka tidak habis pikir bahwa bangsa yang dijajah mau merawat makam para penjajahnya.
Kuburan Kerkhoff Banda Aceh adalah kuburan militer Belanda yang terletak di luar negeri Balanda yang terluas di dunia. Dalam sejarah Belanda, Perang Aceh merupakan perang paling pahit yang melebihi pahitnya pengalaman mereka pada saat Perang Napoleon.
Sebaliknya tidak terhitung banyaknya rakyat Aceh yang tewas dalam mempertahankan setiap jengkal tanah airnya yang tidak diketahui dimana kuburnya.
Baca juga : Salah Satu Tokok Belanda Yang Dimakamkan.
1.
Johan Harmen Rudolf Köhler

Johan Harmen Rudolf Köhler
foto:wikepedia.org
Johan Harmen Rudolf Köhler (lahir di Groningen, 3 Juli 1818 – meninggal di Kutaraja (sekarang Banda Aceh), 14 April 1873 pada umur 54 tahun) ialah seorang jenderal Belanda yang memimpin KNIL dalam Perang Aceh Pertama pada tahun 1873.
Kehidupan awal
Dalam usia 14 tahun, tepatnya tanggal 3 Mei 1832, ia bertugas di Infanteri IX dan kemudian berkampanye (1832-1833) di Belgia dan Flandria. Pada tanggal 21 Mei 1834 ia diangkat sebagai kopral, 16 Desember 1836 fourier dan pada tanggal 21 Juli 1838 menjadi sersan.
Dalam pangkat ini, ia ditempatkan di Hindia-Belanda dan kemudian ke India pada tanggal 14 November 1839. Dalam 4 bulan, ia diangkat sebagai letnan dua dan pada tahun 1847 ia ditempatkan di Pesisir Barat Sumatera. Pada tanggal 4 Oktober pada tahun itu juga ia diangkat sebagai letnan satu dan pada tahun 1852 menjadi kapten, dalam pangkat itu ia bertindak sebagai tokoh yang berwenang dalam urusan sipil dan militer di Distrik Lampung. Pada tahun 1856, ia diangkat sebagai Komisaris Gubernemen.
Pada tahun 1857, ia diangkat sebagai ksatria dengan Militaire Willems-Orde Kelas IV untuk kerjanya selama Ekspedisi Lampung (1856).
Pada bulan Agustus 1857, ia meninggalkan Hindia Belanda untuk cuti selama 2 tahun. Selama tinggal di Belanda, pada tahun 1858, ia naik pangkat sebagai mayor dan untuk pertama dan terakhir kalinya ia ke Jawa pada bulan Juni 1859. Di sana, ia disetujui masuk Infanteri Batalyon II dan pada tahun 1860 atas Batalyon Garnisun di Bangka.
Pengangkatannya sebagai letnan kolonel terjadi secara cepat dan dengan kenaikan pangkat sebagai kolonel (1865), ia menjadi komando militer pesisir barat Sumatera. Dengan dekrit kerajaan pada awal tahun 1873, ia diangkat sebagai mayor jenderal dan kemudian sebagai panglima tertinggi pasukan ekspedisi.
Ekspedisi ke Aceh
Kesultanan Aceh yang berdaulat di Sumatera mencari kontak dengan Kerajaan Italia dan Britania Raya, dan kemudian dengan Kesultanan Usmaniyah. Belanda, yang merasa ditelikung pengaruhnya, mengirimkan ekspedisi ke sana, pada tanggal 8 April 1873, di bawah pimpinan Jenderal Köhler.
Köhler terbunuh dalam Perang Aceh I pada tanggal 14 April 1873 selama inspeksi setelah menduduki kembali Masjid Raya Baiturrahman yang sebelumnya sempat dikuasai oleh pejuang Aceh. Saat itu ia terkena peluru tepat di jantungnya.
Mayatnya dibawa ke Singapura dengan kapal uap Koning der Nederlanden dan dimakamkan di Pemakaman Tanah Abang, Batavia dengan penghormatan militer (pada tahun 1976 pemakaman tersebut digusur dan setelah 2 tahun terkatung-katung di Kedutaan Besar Belanda akhirnya mayat Köhler dimakamkan di Kerkhoff, Banda Aceh atas usul Gubernur Aceh saat itu, Abdullah Muzakir Walad). Kedudukannya sebagai panglima tertinggi dalam ekspedisi pertama digantikan oleh Kol. E.C. van Daalen.
Untuk menandai peristiwa tewasnya Kohler, pada tanggal 14 Agustus 1988, pemerintah Aceh dengan gubernurnya Ibrahim Hasan membuat sebuah monumen peringatan di tempat tewasnya Kohler yaitu di bawah pohon kelumpang di depan Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.
Sumber :
wikipedia.org
Kembali ke halaman pertama
+ Komentar + 1 Komentar
Agen Zeusbola terbaik dan terpercaya saat ini menyediakan permainan judi sabung ayam online untuk kalian semua. Ayo segera gabung bersama kami sekarang juga dan dapatkan Bonus New Member sebesar 10% untuk permainan sabung ayam kami.
Untuk informasi lebih lanjut kalian bisa Hub :
LiveChat : www. zeusbola .biz
LINE : zeusbola
Whatsap : 087775019947
BBM : zeusbola
Berikan Komentar
Berkomentarlah yang sopan dan jangan buang-buang waktu untuk melakukan spam. Terimakasih.
Obrolan Ringan
Tweets by @komunitasgamer