Info
| Jumat, 04 April 2025 - 22:52 WIB
Daftar | Masuk | Anggota

Jumat, 04/04/2025 - 22:52 WIB

Kepulauan Natuna Diambang Perang, Sudah Siapkah Kita Menghadapinya?

info game pc - info-gamepc
Kepulauan Natuna Diambang Perang,
Halo gansis, kembali ane bikin trit nih. Kali ini ane akan membahas masalah Kepulauan Natuna yang kian memanas gansis. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa beberapa bulan terakhir ini, Cina begitu aktif memperkuat armada perangnya di dekat kepulauan Natuna. Bahkan menurut kabar terakhir, Cina telah membangun pangkalan militer berupa landasan pacu untuk pesawat-pesawat militernya. Hal itu dilakukan karena Cina ingin merebut kepulauan Natuna dari pangkuan RI. Bahkan jauh sebelumnya, Cina sudah mengklaim secara sepihak bahwa kepulauan Natuna adalah sebagai bagian dari wilayahnya.

Kejadian di atas tentu saja mengundang reaksi keras dari pihak Indonesia. Karena menurut hukum internasional yang sah, kepulauan Natuna merupakan bagian dari wilayah NKRI yang tentu saja akan dipertahankan mati-matian. Dengan mengklaim secara sepihak, berarti Cina ingin merongrong kedaulatan NKRI. Jika tidak bisa diselesaikan secara baik-baik, maka peranglah menjadi jalan terakhir untuk menyelesaikannya.

Demi mengantisipasi aksi-aksi militer dari pihak Cina, TNI telah memperkuat armada militernya di kepulauan Natuna berupa penambahan beberapa kapal perang.

Berikut sekilas infonya:

TNI Kirim Tujuh KRI ke Natuna, Siap Perang dengan China


Kepulauan Natuna Diambang Perang,

Laut China Selatan makin memanas. Kondisi ini memaksa TNI mengirimkan armada tempur ke Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau (Kepri). Selain patroli pesawat tempur dari Lanud Pekanbaru, TNI juga mengirimkan tujuh kapal perang untuk menjaga kedaulatan NKRI dari ancaman China.

Pengerahan armada tempur untuk memberi deterrent effect kepada sejumlah negara yang bersengketa di wilayah perairan tersebut, terutama China yang mengklaim wilayahnya dari Kepulauan Spartly hingga tujuh pulau di gugusan Kepulauan Natuna. “Saat ini ada tujuh KRI (kapal perang) yang kita siagakan di sana (Natuna), ada juga pesawat udara patroli maritim,” terang Kadispenal, Laksamana Muda (Laksma) Muhammad Zainuddin, kemarin.

Menurutnya, tiga KRI sudah berada Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut IV (Lantamal IV) Tanjung Pinang, yang merupakan Lantamal terdekat yang dimiliki Komando Armada Indonesia Kawasan Barat (Koarmabar). Namun saat ditanya nama kapal perang tersebut, Zainuddin mengaku hal itu rahasia negara.

“Dengan penambahan tiga KRI tersebut, sudah tujuh kapal perang yang disiagakan untuk memberikan deterrent effect di kawasan tersebut. Sebelumnya, sudah ada empat KRI yang disiagakan. Selain itu, intensitas patroli udara di kawasan itu juga ditingkatkan,” tambahnya.

Meski diprotes oleh sejumlah negara Asia Tenggara, China tetap menduduki Kepualuan Spartly. Bahkan negara tirai bambu itu telah mereklamasi tujuh pulau karang untuk pembangunan pangkalan militer.

Tak hanya sampai di situ, China kemudian memperluas peta wilayahnya dengan memasukkan wilayah NKRI di Kepulauan Natuna sebagai wilayahnya.

Inilah yang kemudian membuat buruk hubungan kedua negara. Bahkan sikap tegas telah ditunjukkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Di antaranya menolak ajakan Menteri Pertahanan (Menhan) China, Chang Wanquan, untuk menggelar latihan bersama di Laut China Selatan. Gatot beralasan, semua negara harus menahan diri untuk tidak melakukan aktivitas militer di kawasan tersebut.

Terpisah, mantan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana (pur) Marsetio mengatakan, penguatan armada tempur di kawasan Laut China Selatan sebagai hal yang mutlak dilakukan. Yah, alasan China mengklaim wilayah Indonesia di Natuna, Kepulauan Riau, sebagai wilayahnya diduga karena Natuna kaya akan minyak dan gas bumi terbesar di dunia. Satu ladang gas di Blok Natuna D-Alpha saja memiliki cadangan gas 222 triliun kaki kubik (TCT) yang tak akan habis diekspolitasi hingga 30 tahun mendatang.. “Di situ terdapat sumber energi yang besar,” ujarnya di Kantor Lemhannas, Jakarta.

Menurutnya, persoalan energi akan menjadi sumber utama pertikaian antar bangsa di masa mendatang. Sebagai kawasan penyimpan energi, Laut China Selatan menjadi daerah yang rawan. “Perang tidak di Eropa lagi, tapi di kawasan yang menyimpan energi,” ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi dengan tegas telah memberikan warning kepada China. Menurutnya, klaim China sangat tidak masuk akal, dan jauh dari logika hukum internasional. Apalagi wilayah Kepulauan Natuna sangat jauh dari China. “Sembilan titik garis yang selama ini diklaim Tiongkok dan menandakan perbatasan maritimnya tidak memiliki dasar hukum internasional apapun,” ujar Jokowi


Kepulauan Natuna Diambang Perang,

Tidak mau kalah dengan manuver Indonesia, Cina juga memperkuat armada perangnya.

Berikut sekilas infonya:

1. Siap Perang dengan Indonesia, China Kirim Senjata Berat ke Laut China Selatan


China menjadikan Pulau Hainan sebagai pangkalan utama jika perang pecah di Laut China Selatan

Kondisi Laut China Selatan makin memanas. China telah bersiap perang dan siap menghadapi segala kemungkinan. Sejumlah persenjataan berat telah dikirim pemerintah Beijing ke Pulau Hainan, wilayah China yang berdekatan dengan wilayah konflik itu.

Ini dilakukan China setelah negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, Amerika Serikat (AS) dan Australia menyiagakan armada tempurnya di sekitar Laut China Selatan. Indonesia sendiri telah mengirim tujuh kapal perang dan sejumlah pesawat tempur.

Pasalnya China tak hanya mengklaim Kepulauan Spartly yang diklaim Philipina, Vietnam, Malaysia dan Brunei Darussalam, tapi juga mengklaim Kepulauan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), yang merupakan wilayah NKRI.

Seperti dikutip dari xinhua news agency, Jumat (23/10/2015), China telah mengirimkan persenjataan paling canggih ke Pulau Hainan yang berawa di wilayah Laut China Selatan. Di antara senjata berat yang dikirm China itu terlihat di Pelabuhan Xiuying Haikou.

Di antara senjata berat yang dikirim China adalah jet tempur J-10, helikopter tempur WZ-10, tank amfibi ringan Jenis 63A, kendaraan rudal anti-tank dan kendaraan komando lapis baja. Pangkalan Utama PLA di Pulau Hainan juga telah dipersiapkan sebagai pengendali pusat jika perang benar-benar terjadi.

Tak hanya menyiapkan tentara, China juga telah mempersiapkan warga sipil sebagai pasukan cadangan. Warga di Pulau Hainan telah dilatih secara militer, termasuk penggunaan senjata.

Kesiapsiagaan China ini setelah melihat campur tangan Amerika Serikat (AS) di wilayah kaya minyak dan gas itu. Sebelumnya pada Mei 2015 lalu, kapal perang AS dari kelas Freedom, USS Fort Worth, dikejar kapal perang China, Yancheng. Kapal dipandu rudal type 054A China, itu berhasil mengusir kapal AS setelah sempat terjadi saling bidik.

Ternyata tidak hanya Indonesia dan Cina saja yang mengirim armada militernya, AS dan Australia juga tidak mau kalah.

Berikut sekilas infonya:

AS dan Australia Kirimkan Kapal Perang ke Laut China Selatan, Siap Tempur Hadapi China


AS dan Australia Kirimkan Kapal Perang ke Laut China Selatan

Pemerintah Barack Obama memprotes keras tindakan China yang menduduki Kepulauan Spartly dan mengklaim Laut China Selatan sebagai wilayahnya. Untuk membebaskan kawasan itu dari agresi China, Amerika Serikat (AS) mengirimkam kapal perang ke wilayah konflik itu.

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan, Kamis (22/10/2015), langkah itu ditempuh AS untuk menunjukkan bahwa Paman Sam tidak mengakui klain China atas wilayah itu. Kapal perang AS berlayar dalam jarak 12 mil laut di wilayah yang diklaim China sebagai wilayahnya.

Menanggapi langkah AS, pemerintah China berharap Washington memahami apa yang dilakukan China di Laut China Selatan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chungying, menyebut akan menggalang komunikasi dengan AS. “Saya yakin pihak Amerika Serikat sangat mengerti sikap mendasar China menyangkut hal itu. Kami berharap AS dapat melihat situasi saat ini di Laut China Selatan secara obyektif dan adil, dan China yang secara ikhlas memainkan peranan konstruktif dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan,” katanya.

Sementara itu, mantan Menlu Australia Gareth Evans menyatakan, australia harus mengirim kapal perang ke Laut China Selatan sebagai bentuk protes atas tindakan China. Pekan lalu pemerintah Australia dan Amerika Serikat sepakat untuk meningkatkan kerjasama Angkatan Laut, namun sejauh ini Australia menepis kemungkinan akan bergabung dengan misi kapal perang AS ke Laut China Selatan.

“Keinginan AS dapat dibenarkan dalam menjaga kebebasan pelayaran di wilayah itu dengan mengerahkan kapal-kapal perangnya di dalam batas 12 mil laut, guna menunjukkan bahwa kita tidak mengakui klaim kedaulatan yang dilakukan China. Menurut saya Australia juga sama, ingin melakukan hal itu, dan tidak harus bersama-sama dengan AS,” jelasnya Evans kepada ABC.

Menurutnya, Australia perlu menunjukkan sikap menentang sejumlah aspek dalam kebijakan China mengklaim nyaris keseluruhan teritorial Lauta China Selatan berdasarkan data historis yang tidak kokoh. “Kedua, untuk memproses pembuatan pulau-pulau di atas terumbu karang,” katanya.

Sejauh ini tiga kapal perang Australia berada di sekitar kawasan Laut China Selatan, yakni Kapal Perang HMAS Stuart berlabuh di Jepang, sedangkan HMAS Arunta dan HMAS Sirius baru saja menyelesaikan latihan gabungan dengan AL Singapura di Laut China Selatan

Makin kacau saja konflik di kepulauan Natuna, terlebih setelah AS dan Australia ikut nimbrung. Jika perang benar-benar terjadi, apakah pasukan kita sudah siap untuk menghadapinya? Melihat data di atas, pasukan TNI sudah siap menghadapi segala kemungkinan perang yang bakal terjadi.

Meski mungkin di atas kertas, kecanggihan armada militer yang kita miliki masih di bawah Cina. Namun, perang di lapangan tidak hanya ditentukan kecanggihan alat perangnya saja. Tapi juga kelihaian strategi perang yang diterapkan. Gansis tentu masih ingat sejarah bagaimana strategi seorang Jendral Sudirman yang mampu memukul mundur pasukan Belanda.

Padahal senjata pasukan merah putih pada saat itu sederhana ala kadarnya, berbanding terbalik dengan senjata yang dimiliki pasukan Belanda. Kita semua tentu berharap bahwa semangat patriotisme pahlawan kita terdahulu dapat tertular ke pasukan TNI sekarang ini.

Perang memang jalan terakhir, namun jika itu terjadi maka kita harus menghadapinya dengan gagah berani. Sekaligus membuktikan kepada dunia bahwa negara kita adalah negara yang kuat dan tidak bisa dipandang sebelah mata.

Ganti game lamamu dengan game-game terbaru, hanya di "Revolusi Gamer". Tersedia game-game murah dan berkualitas. Kunjungi info-gamepc.blogspot.com

(Safei/Gamer)


Didukung oleh

Foto Terkait:


Berikan Komentar

Berkomentarlah yang sopan dan jangan buang-buang waktu untuk melakukan spam. Terimakasih.



 
Blog punya © 2014 info-gamepc
Desain Modification by Ahmad Safei