Info
| -
Daftar | Masuk | Anggota
Berita Utama
Mekanisme Pembelian:
  1. Pilih produk yang sesuai dengan kebutuhan anda.
  2. Pemesanan bisa melalui SMS, email, dan message Facebook serta cantumkan Nomor HP/Telp anda.
  3. Kami melayani pengiriman barang ke seluruh Indonesia
  4. Untuk pengiriman menggunakan JNE, TIKI, POS.
  5. Pembayaran melalui transfer Bank, Rekening akan diberitahukan via telpon

Selamat berbelanja !!!

Mekanisme Pembayaran:
  1. Saya akan menghubungi anda, Setelah saya memastikan bahwa Anda sungguh-sungguh membeli game saya.
  2. Pembayaran lewat transfer Bank, Rekening akan diberitahukan via telpon
  3. Barang dikirim setelah anda mentranfer uang sejumlah harga barang beserta ongkos pengiriman
  4. Barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan kecuali rusak atau ada kesalahan spesifikasi.
Terimakasih atas kepercayaan anda memilih produk saya
Berita Pilihan

INPUT PROGRAM

Klik ikon
Suplier Delivery Note ---> Ketik No.PO BE242500192 Dikotak Form tipe/No ---> Pencet tombol TAB ---> Pilih RAK ---> Book Item Inflow

Belanda berhutang ke Amerika Serikat Bukan untuk Memperbaiki Negaranya Tetapi justru digunakan untuk menjajah Indonesia

Sebenarnya bukan hutang, pasca perang dunia kedua Amerika punya kebijakan ekonomi skala besar yang dijalankan tahun 1947–1951. Tujuannya untuk membangun kembali ekonomi negara-negara Eropa (termasuk Jerman sebagai pelaku utama) yang terdampak pasca perang dunia kedua, program itu diberi nama Marshall Plan yang diambil dari nama menteri luar negeri US saat itu George Marshall.

Tujuan utama dari pemberian bantuan itu adalah untuk memperbaiki dampak dari perang dunia kedua di Eropa dan Asia, serta membangun kembali kekuatan ekonomi Eropa. Belanda sebagai salah satu negara yang paling terdampak akibat perang dunia kedua, memiliki ketergantungan terhadap bantuan-bantuan ekonomi tersebut.

Namun masalahnya bantuan tersebut digunakan oleh Belanda untuk merebut kembali wilayah kekuasaan mereka di Asia yang kala itu mereka kira masih dikuasai oleh Jepang, yaitu Hindia Belanda (Indonesia). Pada awalnya mereka hanya bertujuan untuk melucuti tentara Jepang di Hindia Belanda, dan mengambil alih wilayah koloni milik kerajaan Belanda.

Namun mereka tidak mengetahui bahwa Hindia Belanda yang dahulu merupakan wilayah koloni mereka, selepas kekalahan Jepang dalam pertempuran front Pasifik sudah menjadi suatu negara yang merdeka. Kedatangan mereka mendapatkan perlawanan yang pada akhirnya memicu peristiwa agresi militer Belanda di wilayah Indonesia.

Hal ini melanggar kode etik dari ERP sehingga pada akhirnya Belanda ditekan oleh dunia internasional supaya mengakhiri kolonialismenya di Indonesia, Amerika juga turut memberikan tekanan kepada Belanda dengan mengancam untuk menarik bantuan Marshall Plan apabila Belanda masih melakukan agresi dan tidak segera berunding untuk mengakui kedaulatan Indonesia dan mengakhiri perang.

Mengungkap Perang Diponegoro

Jangan membayangkan perang antara Pasukan Diponegoro dengan Pasukan Belanda itu berhadap hadapan seperti lazimnya perang jaman dulu. Ketahui bahwa perang Diponegoro itu dalam bentuk perang Gerilya yang setiap hari ketemu di medan pertempuran. Yang namanya perang gerilya itu tidak pernah tahu kapan terjadinya.

Mungkin pasukan Belanda dapat menguasai kota kota atau daerah yang ramai sekitar kraton, tetapi di desa-desa dan kampung yang jumlahnya banyak dan tersebar di mana mana, tidak gampang mencari tahu di mana saja tempat berkumpulnya pasukan Pangeran Diponegoro, karena mereka selalu bergerak dan berpindah pindah dari satu kampung ke kampung lain.

Perlu diketahui bahwa sistem penataan pasukan Pangeran Diponegoro dibuat persis seperti pasukan tentara Negara Kekaisaran Ottoman ( Turki ) yang sangat terkenal yang disebut Janisari. Hampir sama seperti pasukan Imam Bonjol itu juga menggunakan sistem penataan pasukan tentara Negara Kekaisaran Ottoman . Jadi pasukan tentara Belanda sangat kerepotan menghadapi tentara pasukan Pangeran Diponegoro dan memerlukan waktu yang tidak sebentar , karena berlangsung perang selama 5 tahun dari tahun 1825 samai 1830.

Ini tentara Janisari dari Kekaisaran Ottoman.

Karena untuk menghadapi perang melawan pasukan Diponegoro yang meluas hampir meliputi jawa Tengah dan Jawa Timur yang begitu luas, maka Belanda merubah sistem perangnya dengan cara mengelabui atau menipu Pangeran Diponegoro , seolah olah Belanda mengajak ingin berdamai dan akan memberi kedudukan Pangeran Diponegoro sebagai raja Mataram. Ada seorang personil Belanda yang fasih berbahasa jawa dan mengenal dekat dengan Diponegoro yang datang membujuk untuk mengadakan perdamaian di Magelang.

Ini gambaran tentara Pangeran Diponegoro berdasarkan lukisan Rd. Saleh Syarib Bustaman.

Menanggapi usulan perdamaian yang ditawrkan oleh Belanda , Pangeran Diponegoro tidak langsung menerima usulan tersebut . Beliau berfikir keras untuk mempertimbangkan usulan tersebut dan mempelajari untung ruginya menerima tawaran yang nampaknya menguntungkan posisinya. Untuk persiapan tersebut , maka Pangeran Diponegoro mengumpulkan pasukannya di desa Metesih dekat Magelang.

Ini gambaran pasukan Pangeran Diponegoro yang berkumpul di Desa Metesih dekat Magelang, menjelang Diponegoro pergi ke Magelang untuk memenuhi undangan perdamaian dari Jenderal H. M. Baron De Kock.

Pada hari Minggu , 28 Maret 1930 , sehari setelah lebaran, suasana kota Magelang masih ramai , terlebih lagi akan ada rencana kedatangan Pangeran Diponegoro ke Magelang untuk memenuhi undangan panglima perang Belanda Jenderal De Kock. Pada waktu perjalanan menuju Magelang . Pangeran Diponegoro diiringi para pengikutnya yang terdiri dari para prajurit pilihan dari desa Metesih ke tempat pertemuan di rumah Residen Kedu di Magelang.

Sebagai persiapan penangkapan Pangeran Diponegoro , sekitar 3 hari seblum hari H Jenderal De Kock telah memerintahkan secara rahasia dua orang perwira infanteri seniornya ( Louis du Perron dan A. V. Michiels ) , untuk mempersiapkan pasukan yang tersembunyi sambil berjaga jaga apabila Pangeran Diponegoro datang berserta para pengikutnya. Dugaan Jenderal De Kock tidak meleset , karena Pangeran Diponegoro memang datang dengan membawa pasukan yg cukup banyak.

Di tempat pertemuan, jenderal de Kock didampingi Residen Kedu Vlack , seorang perwira pengawal De Kock ( Letkol Roest , Mayor F.V.H. A. de Stuers dan penterjemah ahli bahasa Jawa Kapten J. J. Roeps. Sementara pihak Pangeran Diponegoro didampingi oleh tiga orang putranya , penasehat agama, dua pengawal dan seorang panglima perang Basya Mertanegara.

Pada awal pembicaraan Pangeran Diponegoro menyampaikan salam sebagai penghormatan terhadap lawan bicara yang lebih senior , ucapnya :

“Jenderal , Saya hanya sebentar menemui anda untuk kunjungan ramah-tamah ini , sebagaimana adat Jawa setelah bulan puasa. Mereka yang muda pergi mendatangi rumah mereka yang lebih sepuh , untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang dilakukan tahun yang lewat , dalam hal ini Anda , Tuan De Kock adalah pihak yang lebih tua dari saya,” ujar Pangeran Diponegoro mengawali pembicaraan.

Ucapan penuh hormat ini tentu tak akan memengaruhi niat Jenderal De Kock yang sejak awal memang tidak berniat membiarkan Diponegoro pergi begitu saja

Ternyata tanggapan Jenderal De Kock sangat mengejutkan dan diluar dugaan , dia mengatakan :

" Sebaiknya Tuan tidak usah kembali ke Metesih , saya sarankan Tuan tetap di sini bersama kami " , jawab Jenderal De Kock .

Tentu saja Pangeran Diponegoro sangat kaget dan bingung mendapat jawaban tersebut , lantas spontan dia bertanya : " Apa maksud Tuan agar saya tidak kembali ke Metesih , mengapa saya tidak diijinkan kembali dan apa yang harus saya lakukan di sini , apakah berarti saya ditahan ,? " hardik Pangeran Diponegoro dengan nada meninggi .

Suasana menjadi sangat tegang dan mencekam , semua yang hadir dalam pertemuan itu terdiam : " Ada masalah apa Jenderal , saya kan tidak ada masalah dengan Anda , saya juga tidak menaruh kebencian terhadap siapa pun " sambung Pangeran Diponegoro.

Martanegara menyela dan mengusulkan agar masalah politik bisa diselesaikan lain waktu. Namun rupanya Jenderal De Kock tidak menghendaki usulan tersebut.

Dengan tegas De Kock menjawab : " Tidak , terserah kepada Pangeran setuju atau tidak , saya tetap menahan Tuan , saya ingin menuntaskan masalah politik hari ini juga ", potong De Kock dengan nada tinggi.

Pangeran Diponegoro benar benar marah , tetapi situasinya sudah tidak memungkinkan untuk melawan , karena ia sudah merasa terjebak. Saking marahnya Pangeran Diponegoro , ia meremas pegangan tangan pada kursi tempat duduk Diponegoro sampai pecah . Dan ini kursinya :

Ini kursi tempat perundingan Pangeran Diponegoro dengan Jenderal De Kock.

Ini adalah Jenderal Hendrikus Baron De Kock.

Setelah peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro tersebut , selanjutnya beliau dibawa ke Semarang dan dari Semarang beliau dibawa ke Batavia dengan menggunakan kapal Uap SS Van Der capellen dan akhirnya tanggal 8 April 1830 tiba di Batavia dan beliau langsung ditahan di tempat ruang penahanan yang ada di Gedung Stathuis Batavia (sekarang menjadi Gedung Museum Fatahilah).

Pangeran Diponegoro tinggal di sebuah kamar di atas penjara wanita di Stadhuis. Kamar itu awalnya adalah kamar kepala penjara (cipierswoning) di Stadhuis yang harus dikosongkan jika ada tahanan politik berstatus tinggi seperti Pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro ditempatkan di ruang kepala penjara, tak seperti tahanan kriminal lain di penjara bawah tanah yang sempit. Pangeran Diponegoro dianggap tahanan politik berstatus terhormat sehingga diberikan tempat yang layak. Beliau menunggu keputusan sidang Dewan Pengadilan Belanda.

Setelah keputusan Dewan Pengadilan Belanda keluar, Pangeran Diponegoro diputuskan untuk diasingkan ke luar Pulau Jawa tepatnya ke Manado (1830–1833) kemudian Makassar (1833–1855) karena di Menado dikhawatirkan menjalin komunikasi dengan Kyi Mojo salah satu panglima perang yang menjadi andalan Diponegoro.

Demikian jawaban saya, tolong dikoreksi.

Jalan Berliku Menggapai gerbang perusahaan tambang

Banyak yang mikirnya langsung cari-cari lowongan, siapin CV, lalu ditolak mentah-mentah karena gak punya skill spesifik dan sertifikasinya.

Stop! Jangan buang-buang waktu. Mau tau jalan tol yang bisa bawa lo langsung ke gerbang perusahaan tambang atau industri lain juga bisa!

Jawabannya cuma satu: BLK atau BPVP.

Bedanya apa simpelnya:

▶️ BLK: Di bawah Pemda. Bagus.

▶️ BPVP: Di bawah Kemnaker Pusat. Biasanya lebih wah fasilitasnya.

Ini bukan sekedar ‘kursus’. Ini adalah PELATIHAN GRATIS BER-SERTIFIKASI yang dikasih negara buat lo. Bayangin: diajarin, dikasih makan, dikasih uang saku, dapet sertifikat KOMPETEN, dan yang paling gila… SERING DIBAWAIN MAGANG KE PERUSAHAAN (bagi yang mau setelah pelatihan)!

Jurusan yang relevan buat dunia tambang:

🟡 Operator Alat Berat

🟡 Mekanik Alat Berat

🟡 Pengelasan (Welding)

🟡 Surveyor

Lo gak cuma dapet skill. Lo dapet RELASI (instruktur, teman seperjuangan, alumni) dan JEMBATAN yang langsung nyambung ke industri.

Cerita nyata: Pernah ketemu orang Bali. Di daerahnya gak ada pelatihan alat berat. Dia rela merantau jauh-jauh ke pulau lain buat ikut BLK. Kenapa? Karena di luar, pelatihan mandiri bisa puluhan juta! Ini GRATIS, Bro!

Udah gitu aja. Keywordnya udah gue spill: ‘BLK’ atau ‘BPVP’.

Sekarang, giliran lo. Cari info BLK/BPVP di daerah lo. Ada yang daftar online juga.

Pertanyaan buat diskusi:

1. Ada yang sudah pernah ikut BLK/BPVP? Cerita pengalamannya dong!

2. Jurusan apa lagi yang menurutmu prospek di tambang?

Share ke temen lo yang lagi bingung cari jalan masuk industri!

Apa manfaat memotong rumput dengan sabit dibandingkan menggunakan mesin pemotong rumput?

Bisa bikin sehat? Potong rumput dengan sabit itu bukan cuma soal membersihkan halaman. Saat pakai sabit, kita pasti banyak bergerak. Seluruh proses pemotongan rumput benar-benar harus mengandalkan tenaga tubuh sendiri. Mengayunkan tangan, menahan keseimbangan badan, memutar pinggang, mengangkat rumput, membuangnya, dan seterusnya, semuanya membuat banyak otot bekerja bersamaan.

Semua ini membuat tubuh aktif secara alami. Lengan dan bahu bekerja saat mengayun, punggung dan perut membantu menstabilkan tubuh, dan kaki menjaga keseimbangan. Kalau dilakukan berulang dan cukup lama, tubuh akan berkeringat. Berkeringat adalah tanda kalori sedang dibakar. Artinya, memotong rumput adalah aktivitas fisik yang menyehatkan.

Sehingga, kalau dilakukan rutin, memotong rumput pakai sabit bisa membantu menjaga kebugaran. Tubuh bergerak, kalori terbakar, otot—terutama otot inti di perut—jadi terlatih. Jadi selain halaman jadi bersih, badan juga terasa lebih ringan dan lebih fit. Dan siapa tahu, bonusnya juga bisa didapatkan: sixpack. Meski itu bukan hasil instan, tapi sabit jelas membantu ke arah sana kalau dibarengi kebiasaan hidup sehat.

Kalau pakai mesin pemotong rumput, tubuh memang tetap bergerak dan tetap mengeluarkan tenaga, tapi gaya utama untuk memotong rumput berasal dari mesin, bukan dari otot kita. Tubuh lebih banyak berperan untuk mendukung, menahan, dan mengarahkan alat. Otot memang bekerja, terutama di bahu, lengan, dan punggung, tapi sifatnya lebih ke menahan beban dan getaran. Gerakannya cenderung sama dan berulang, tidak banyak variasi.

Yang kita dapat bukan aktifitas fisik yang menyehatkan, tapi malah pegal-pegal karena mendukung mesin potong yang bergetar di punggung.

Jadi, kalau tujuannya hanya membersihkan halaman dengan cepat, mesin potong rumput jauh lebih praktis. Tapi kalau ingin halaman bersih sekaligus tubuh bergerak dan lebih sehat, pakai sabit memberi manfaat yang lebih lengkap.

Dengan sabit, pekerjaan selesai, badan begerak aktif, dan tubuh bugar alami. Dan siapa tahu, dapat bonus tubuh atletis dan perut sixpack. Semua dari satu aktivitas rutin yang sederhana.

Fenomena tentang jabatan kades jadi 9 tahun?

1. UI

UI

Baru tahu kalo jabatan kades jadi 9 tahun, kirain masih 6 tahun. Aku pro kontra dengan kebijakan jabatan kepala desa jadi 9 tahun. Aku jelaskan kontra nya dulu ya.

Terlalu lama, ideal nya jabatan kades itu tetap 6 tahun, kalo bisa malah 5 tahun seperti presiden, gubernur atau bupati.

Kalo dapat kades yang jelek maka pembangunan akan lambat. Paling yang dibangun hanya daerah RT RW dekat rumahnya saja. Daerah lainnya hanya sekedarnya saja.

Terlalu lama menjabat nanti malah jadi rakus kekuasaan seperti mantan presiden Jokowi. Biasanya kades yang lama akan mengerahkan segala cara agar terpilih kembali.

Jadi lama dapat serangan fajar nya. Di desa sudah hal umum kalo mau ada Pilkades itu ada serangan fajar. Biasanya Pilkades di ikuti 4–5 calon, jika tiap calon ngasih 100–300 ribu lumayan dapat 500 ribu lah minimalnya.

Belum lagi biasanya setahun sebelum coblosan para calon kades itu suka bagi-bagi, misalnya rokok, ayam kampung, lele atau sejenisnya lah.

Sekarang pro nya kenapa?

Cuma satu sih. Biasanya habis coblosan itu suasana desa tegang karena kubu yang kalah biasanya tidak terima, apalagi kalo kalahnya cuma 20an suara. Jumlah pemilih di desaku ada 2000an orang, jadi kalo kalahnya tipis itu pasti kubu yang kalah tidak terima dan biasanya minta coblosan ulang.

Maklum sudah keluar duit mm an atau minimal ratusan juta lah.

Pernah keluar malam sehabis coblosan kades untuk cari makanan, suasana nya sepi tidak banyak motor atau mobil seliweran. Kata pedagang nya emang begini terus kalo habis coblosan tapi beberapa hari lagi juga sudah normal.

Mengapa banyak orang yang liburan ke Jogja ?

Sekarang Jogja menjadi primadona liburan untuk warga Indonesia, bahkan melebihi Bali peminatnya akhir tahun ini. Saya melihat berita, Jogja ramai sekali. Saya terakhir ke Jogja 2 tahun lalu.

Memang wisata Jogja semakin bagus sih, terutama wisata di wilayah selatan gunung kidul, semakin banyak pilihan dan tertata kawasannya. Selain itu juga di wisata kota Jogja juga semakin tertib dan menyenangkan. Banyak atraksi wisata baru dibuka.

Apalagi Jogja kan statusnya kota yang murah, walau tentu ini bisa diperdebatkan, karena murah dan mahal tentu tergantung pilihan masing-masing selera. Tapi jika dibandingkan wisata di Bali atau Jakarta, Jogja lebih terjangkau lah.

Sisi lain yang membuat Jogja semakin ramai ya karena akses ke Jogja semakin mudah. Ada jalan tol baru dari Semarang (Pantura) dan Solo yang bisa langsung nyambung ke Jogja. Perjalanan lebih cepat dan dekat. Dari jakarta ke Jogja bisa 7–8 jam saja lewat tol. Inilah pentingnya adanya insfratruktur untuk kemudahan transportasi.

Enam Perihal Penting tentang Westerling

Potret Raymond Westerling pada tahun 1980.

Teror Westerling tercatat sebagai salah satu peristiwa paling berdarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. Inilah beberapa kiprah Si Turki yang terekam dalam sejarah.

Penyebaran Covid-19 semakin meresahkan masyarakat Indonesia. Jumlah korban yang terus bertambah seolah menegaskan bahwa virus ini tidak bisa dianggap remeh. Namun di tengah berbagai kabar pilu tentang virus tersebut, kabar baik datang menghampiri keluarga korban pembantaian rakyat Sulawesi Selatan oleh serdadu Belanda selama kurun 1946-1947.

Penantian selama delapan tahun akhirnya terbayar sudah. Diberitakan The Guardian, para hakim pengadilan Sipil Belanda di Den Haag memutus Pemerintah Belanda harus membayar kompensasi atas kejahatan militer yang mereka lakukan di Sulawesi Selatan. Kasus ini sendiri dibawa ke pengadilan oleh pengacara HAM Liesbeth Zegveld pada 2012. Baru pada Maret 2020 gugatan ini berhasil dimenangkan.

“Kami puas dengan keputusannya. Prosesnya tidaklah mudah; butuh delapan tahun persidangan,” ungkapnya. “Sungguh disayangkan pemerintah Belanda belum mau untuk lebih terbuka untuk kasus ini karena banyak klien kami yang kemudian meninggal selama persidangan. Akan tetapi bagi klien kami yang masih hidup dan semua keluarganya, pengakuan pengadilan terhadap penderitaan mereka dan hak mereka terhadap kompensasi itu penting.”

Aksi pasukan Belanda pimpinan Kapten Raymond Pierre Paul Westerling ini merupakan satu catatan hitam dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Dalam rangka mengulang kekuasaan Belanda di negeri ini, Kapten Westerling menebar teror. Ribuan orang menjadi korban. Sulawesi Selatan tercatat sebagai daerah yang paling banyak dibantai oleh militer Belanda pimpinan Si Turki (julukan untuk Westerling).

Berikut sejumlah fakta penting tentang Westerling dan aksi terornya di Indonesia selama kurun masa 1946-1950:

Panggung Pertama

Kota Medan terpilih menjadi gelanggang pertama kebuasan Westerling di Indonesia. Pada 14 September 1945, ratusan parasut tampak mengembang di langit kota Medan. Jumlahnya sekira satu kompi pasukan. Bersama mereka, didrop pula 180 pucuk senjata revolver. Lapangan terbang Polonia, Medan, menjadi tempat para prajurit lintas udara itu mendarat.

Dituturkan Letkol (Purn) Burhanuddin kepada Edisaputra dalam Sumatera dalam Perang Kemerdekaan, turunnya pasukan itu disaksikan langsung oleh banyak orang. Burhanuddin dan kawan-kawannya melihat lapangan Polonia dipenuhi oleh pasukan yang entah dari mana rimbanya itu.

“Sayangnya kami tidak tahu siapa yang mendarat itu, tapi pendropan senjata secara jelas kami ketahui karena petinya pecah sewaktu jatuh ke bumi,” ujar Burhanuddin.

Tercatat dalam Medan Area Mengisi Proklamasi, hasil penyusunan tim Biro Sejarah Prima, pasukan asing itu datang di bawah pimpinan Letnan Raymond Westerling. Kedatangannya telah dinanti oleh Letnan Brondgeest, seorang perwira Angkatan Laut Belanda yang memimpin Unit IV pasukan Anglo Dutch Country Section (ADCS).

Keduanya berkolaborasi menegakan kekuasan Belanda di wilayah Sumatera bagian timur yang kaya akan hasil perkebunan. Brondgeest bertugas mengurusi organisasi pemerintahan, sedang Westerling menyusun kekuatan pasukan. Dalam waktu singkat, Westerling dapat membentuk sepasukan polisi berkekuatan 200 orang. Mereka terdiri dari orang Belanda, Indo-Belanda, dan jebolan tentara Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL).

Di Medan, Westerling juga menjadi kepala dinas intelijen Belanda. Ia memegang jaringan intelijen untuk setengah pulau Sumatera. Saat menjalankan tugasnya, Westerling kerap bertindak bengis. Tentang kekejamannya itu pernah diceritakan seorang opsir Inggris yang menyaksikan langsung tindakan di luar nalar Westerling.

Ketika sedang asik minum kopi di pemondokannya, Westerling memperlihatkan kepala seorang Indonesia dari dalam keranjang sampah. Dengan santai Westerling menceritakan kepala itu milik seorang “ekstrimis” Indonesia yang berhasil dihabisi setelah cukup lama dibuntuti.

“Jam empat pagi aku masuk ke kamar mandi dan menyuruh pengacau itu berpusing. Sekali penggal dengan pedangku aku memisahkan kepala dari badannya,” kata Westerling kepada si opsir Inggris seperti dikutip K’tut Tantri dalam Revolusi di Nusa Damai.

Pada 23 Juli 1946, Westerling dipindahkan dari seksi intelijen ke satuan pasukan komando. Pemindahan itu sekaligus mengakhiri tugasnya di Medan. Ia dikenang sebagai sosok algojo yang melakukan teror pembunuhan di sekitar Medan.

Ribuan Korban

Sulawesi Selatan, antara 1946-1947, disulap menjadi ladang mayat oleh pasukan militer Belanda. Dalam disertasi Remy Limpach, De brandende kampongs van Generaal Spoor (dialih bahasakan menjadi Kekerasan Ekstrem Belanda di Indonesia) tindakan ekstrem para pejuang gerilyawan, yang mengakibatkan sedikitnya 1.000 orang Indonesia pro Belanda tewas, memicu aksi-aksi balas dendam tentara Belanda yang jauh lebih brutal.

Pasukan dari 3-11-RI dan 123 prajurit Baret Hijau dari Pasukan Komando Khusus/Depot Speciale Troepen (DST) pimpinan Westerling didatangkan Panglima Tertinggi Tentara Belanda di Indonesia Letanan Jenderal S.H. Spoor atas permintaan Komandan Markas Besar Timur Raya dan Borneo (HKGOB) Kolonel Hendrik de Vries dan Residen Sulawesi Selatan C.L. Cachet.

Pada 5 Desember 1946, Westerling dan Letnan Dua Jan Vermeulen beserta unit Baret Hijau pimpinannya, tiba di Sulawesi Selatan. Sebagai pasukan khusus, Westerling dan pasukannya memiliki hak yang berbeda dengan unit lainnya. Ia ada dalam perlindungan Mayor Jenderal E. Engles, Direktur DCO (Direktorat Pusat Pelatihan). Sehingga wajar jika dalam menjalankan aksinya, Westerling tidak takut kalau-kalau tindaknya terlalu berlebihan.

Westerling malah memerintahkan pasukannya mengembangkan metode “penertiban” yang lebih mirip kepada aksi pembunuhan massal. “Mayor Jenderal Engles yang paham benar pendapat dan metode saya memerintahkan kepada saya untuk pergi ke sana (Sulawesi Selatan) untuk mengembalikan ketertiban. Pada waktu itu, saya tahu apa yang harus saya lakukan,” ungkap Westerling seperti dikutip Limpach.

Menurut sejarawan J.A. de Moor dalam Westerling Oorlog, cara yang digunakan Westerling dalam melancarkan aksinya nyaris selalu sama: mengepung dan mengunci area operasi, menggiring penduduk ke satu titik pusat, menggeledah, mengeksekusi dan terakhir membumihanguskan kampung-kampung yang dianggap sarang ekstremis. Di setiap kota yang didatangi DST selalu berakhir dengan pembunuhan-pembunuhan brutal.

Pihak Republik mengklaim korban yang jatuh akibat aksi Westerling sebanyak 40.000 nyawa. Namun menurut Limpach angka yang paling rasional adalah lebih dari 3.500 orang. Angka itu sudah termasuk 500 orang yang tewas dibunuh oleh milisi pro federal: Barisan Penjaga Kampung. Soal angka 3.500 itu juga diyakini oleh sejarawan Sulawesi Selatan Letnan Kolonel Natzir Said.

“Jumlah 40.000 itu fiktif dan dihembuskan untuk menyemangati pasukan sendiri dan mengundang simpati internasional,” kata Natzir dalam De Eenling.

Dukungan Anti-Republik

Dukungan untuk Westerling datang juga dari seorang Republik yang ingin mempertahankan kekuasannya. Adalah Sultan Hamid II atau Sultan Syarif Hamid Al-Qadrie, sultan ke-7 Kesultanan Qadriyah Pontianak. Hamid cukup dekat dengan Westerling karena kerap bertemu di sebuah cafe di Jakarta sepanjang Januari 1948.

Kedekatannya dengan perwira Belanda itu bukan kali pertama, Hamid diketahui pernah aktif di KNIL berpangkat letnan dua, setelah menamatkan pendidikan di Akademi Militer Belanda (Koninklijk Militaire Academie) di Breda, Belanda, pada 1938. Pada masa pendudukan Jepang, Hamid ditahan selama tiga setengah tahun di Jakarta. Pasca kemerdekaan, ia kembali aktif di KNIL dengan pangkat kolonel. Karir militerny terus melejit. Ia diketahui pernah menjabat ajudan istimewa Ratu Kerajaan Belanda, Wilhelmina.

Hamid pernah membentuk federasi bernama Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DKIB) bersama negara-negara kerajaan se-Kalimantan Barat, yang menjalin persemakmuran dengan Kerajaan Belanda. Ia juga membentuk Bijeenkomst Voor Federaal Overleg (BFO) atau Perhimpunan Musyawaran Federal, bersama sejumlah tokoh politik negara-negara otonom di Kalimantan, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Bali.

Hamid memperjuangkan sistem federal dalam berbagai perundingan, mulai dari Perundingan Malino sampai Konfersensi Meja Bundar (KMB). Sultan dari Pontianak itu percaya bahwa kepulauan Melayu (Indonesia) lebih tepat menggunakan sistem federal untuk ketatanegaraannya. Namun keinginannya itu mendapat tentangan dari kaum republiken yang menginginkan sistem kesatuan atau unitarisme.

Pada 22 Desember 1949, Hamid kembali bertemu Westerling. Kapten Belanda itu menyatakan keberatannya atas posisi Sukarno sebagai Presiden RIS. Ia juga mengklaim telah membentuk sebuah pasukan, APRA, berkekuatan 15.000 orang. Westerling lalu menawari Hamid komando pasukan APRA. Karena tidak yakin, Hamid akhirnya menolak tawaran itu. Namun sang sultan berubah pikiran dan menerima tawaran itu pada 10 Januari 1950.

Maksud Hamid menerima tawaran jadi panglima APRA karena ingin mempertahankan sistem negara federal dari intimidasi yang ingin menghapuskan negara-negara bagian secara inkonstitusional. Tapi ada syarat yang harus dipenuhi: pasukan APRA harus terdiri dari bangsa Indonesia saja; Westerling harus memberitahukan persenjataan, kekuatan-kekuatan dan dislokasi APRA; dan dia harus mengetahui sumber keuangan untuk membiayai APRA.

Belum sempat menerima pasukan APRA, Hamid mendengar kabar penyerbuan APRA di Bandung. “Saya marah karena sebelum ada kebersan soal tawaran oppercommando APRA, Westerling telah bertindak sendiri. Dan saya sendiri tidak menyetujui adanya penyerbuan ke kota Bandung itu,” kata Hamid seperti dikuti Persadja dalam Proses Peristiwa Sultan Hamid II.

Alih-alih tidak setuju dengan aksi kawan Belandanya itu, Hamid memerintahkan Westerling dan rekannya, Inspektur Polisi Frans Najoan untuk menyerang sidang Dewan Menteri RIS pada 24 Januari 1950. Dalam penyerbuan itu, Hamid juga memberi instruksi agar semua menteri ditangkap, sedangkan Menteri Pertahanan Sultan Hamengku Buwono IX, Sekretaris Jenderal Ali Budiardjo dan Kepala Staf APRIS Kolonel TB Simatupang harus ditembak di tempat. Sebagai kamuflase, Hamid sendiri harus menerima luka enteng: ditembak di kaki.

Setelah penyerangan, rencana Hamid selanjutnya adalah meminta persetujuan Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta, supaya ia diperbolehkan membentuk kabinet baru, di mana ia akan menjadi Menteri Pertahanan. Ketika akan pergi ke tempat persidangan, Hamid berubah pikiran. Ia ingin mencabut kembali perintah penyerbuan itu. Karena tidak tahu di mana keberadaan Westerling dan Frans Najoan, keinginan Hamid itu hanya dibicarakan dengan ajudannya, Van der Heide.

Serangan gagal. Sidang rupanya selesai lebih cepat dari rencana. Pasukan yang telah bersiap menyerang hanya mendapati tempat penyerbuan telah kosong. Meski begitu, Hamid tetap di tangkap pada 5 April 1950 oleh Sultan Hamengku Buwono IX atas perintah Jaksa Agung RIS Tirtawinata. Pada 8 April 1953, Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara dipotong masa tahanan tiga tahun.

Pasukan Ratu Adil

Ide pembentukan salah satu pasukan utama Westerling, Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), tercetus saat si kapten bertugas di Jawa Barat. Dalam memoarnya, Challenge to Terror, Westerling mengklaim penduduk Jawa Barat, terutama koleganya, selalu memohon perlindungan dari ancaman para bandit yang berkeliaran. Keberadaan Westerling memang cukup disegani, bahkan ditakuti. Tidak ada yang berani berbuat macam-macam jika sudah menyangkut nama Westerling.

“Mereka tidak akan berani menyerang desa kami jika anda melindungi kami,” kata seorang dari mereka kepada Westerling.

Sebelum memutuskan membentuk organisasi pertahanan di kampung-kampung di Jawa Barat, Westerling pergi ke Jakarta untuk meminta saran Letnan Jenderal Simon H. Spoor. Ia menyebut pendirian organisasi ini penting untuk menjaga keberadaan Negara Pasundan dalam Republik Indonesia Serikat (RIS) bentukan Belanda.

Meski setuju dengan ide itu, Spoor meminta mantan bawahannya itu bertanggung jawab atas segala konsekuensinya. “Itu cukup jelas bahwa saya punya persetujuan dari mantan komandan saya. Keraguan saya hilang. Pada Maret 1949 saya mulai bekerja,” ucapnya. Westerling lalu merekrut teman dan bekas anak buahnya dari Koninklijk Leger (KL) dan KNIL.

Istilah “Ratu Adil” dipakai Westerling setelah seorang pribumi membawakannya buku ramalan Jaya Baya. Dalam karya yang terlahir pada abad ke-12 itu, terdapat kalimat yang menarik perhatiannya: “… Dan kemudian akan datang Ratu Adil, Pangeran Keadilan, yang akan lahir di Turki.”

“Dan Anda lahir di Istanbul,” kata pribumi itu kepada Westerling.

Tampaknya, itu menjadi argumen mereka bahwa Westerling adalah Ratu Adil dalam ramalan kuno. Ia dianggap menjadi pembebas yang dijanjikan untuk melepaskan orang Indonesia dari tirani. Mereka berpikir bahwa keberadaan Westerling tepat untuk membantu mereka. “Hari itu saya membaptis kekuatan saya ‘Pasukan Ratu Adil’,” kata Westerling.

Bantuan Pangeran Belanda

Pada awal 1950 Westerling tampil sebagai tokoh utama kudeta APRA di Bandung. Upaya menjatuhkan Pemerintah Indonesia itu menurut sejarawan senior Gerard Aalders dalam Bernhard, Zakenprins, berjalan berkat satu kekuatan besar di Belanda, yakni peran rahasia Pangeran Bernhard von Lippe-Biesterveld, suami Ratu Belanda Juliana.

Sejumlah arsip Belanda, terutama buku harian Sekretaris Ratu, Gerrie van Maasdijk, menunjukkan betapa Pangeran Bernhard secara efektif berhasil memanfaatkan kedudukannya sebagai anggota keluarga kerajaan untuk mengelola kepentingan-kepentingan politik, diplomatik, dan bisnisnya. Termasuk mengganden Westerling di dalamnya.

Komplotan Bernhard-Westerling, dibantu JW Duyff –Guru Besar Fisiologi Universitas Leiden dan mantan pejuang saat pendudukan Nazi Jerman yang berambisi menjaga Hindia-Belanda tetap di bawah kuasa Negeri Belanda– mengatur penyelundupan senjata dari London dan Paris, melalui Pakistan ke Yogyakarta.

Namun catatan sekretaris ratu tentang skandal senjata itu tidak dijelaskan lengkap di dalam laporan intelijen Belanda. Pihak penegak agaknya melindungi sang pangeran dengan cara tidak menguraikan secara rinci siapa saja otak aksi APRA itu. Cara tersebut dipercaya sebagai upaya menutup-nutupi peran kunci Bernhard, Duyff, dan Westerling.

Peran lain Bernhard terlihat ketika menyelamatkan Westerling di tengah kegagalan aksinya. Belanda tidak ingin Westerling jatuh ke tangan pihak Indonesia dan menganggu hubungan kedua negara yang mulai berjalan. Sang pangeran memang telah lama senang dengan cara kerja Westerling. Ia secara pribadi pernah menyurati Jenderal Spoor di Jakarta agar memberikan koninkelijke onderscheiding (penghargaan kerajaan) kepada Westerling.

“Menunjukkan betapa pangeran ini mengagumi perwira kontroversial yang pernah menjadi anggota staf pribadinya ini,” ujar Aalders.

Tidak Teradili

Kegagalan menduduki Bandung pada 23 Januari 1950 membuat prajurit APRA lari tunggang langgang ke arah Cianjur. Namun upaya menyelamatkan diri itu sia-sia karena Batalyon H Divisi Siliwangi pimpinan Mayor Sutoyo berhasil menghadang para pemberontak ini. Peristiwa perburuan itu dikisahkan Kolonel (Purn) Mochamad Rivai dalam Tanpa Pamrih, Kupertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

“Mereka terkepung dan kocar-kacir, bahkan sebagian nekad menerjunkan dirinya ke jurang-jurang yang ada di wilayah hutan-hutan Maleber,” ucapnya.

Westerling yang sadar gerakannya telah terpatahkan, memilih melarikan diri ke Jakarta. Selama pelarian, ia didampingi pengawal setianya Pim Colsom dan dua anggota polisi Indonesia yang membelot. Di Jakarta, Westerling hidup berpindah-pindah agar keberadaannya tidak mudah diketahui. Menurut sejarawan Salim Said, salah satu tempat yang pernah ditinggali Westerling adalah rumah milik seorang Belanda di Kebon Sirih.

Awal Februari 1950, seorang pendukung Westerling dari kalangan mantan KNIL Letnan Kolonel Rappard tewas dalam suatu pengepungan oleh kesatuan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) di Jakarta. Kejadian itu membuat keinginan Westerling ke luar dari Indonesia semakin besar. Maka disusunlah sebuah rencana pelarian yang melibatkan sejumlah pejabat tinggi militer dan sipil Belanda.

Upaya pelarian Westerling ke luar negeri itu ternyata tercium oleh intelijen APRIS. Demi mencegahnya, dibentuklah tim pemburu oleh pihak militer Indonesia Serikat yang dipimpin Mayor Brenthel Soesilo. Pada 23 Februari 1950, tim pengejar berhasil mengendus keberadaan Westerling di Pelabuhan Tanjung Priok. Benar saja, sampai di mulut pelabuhan, mobil yang ditumpangi Letnan Supardi dan Letnan Kesuma berpapasan dengan mobil Westerling. Tanpa perlawanan, Westerling bersedia ikut singgah ke sebuah pos tentara APRIS di dekat pelabuhan.

Namun belum 100 meter bergerak, tiba-tiba serentetan tembakan menyalak dari kendaraan Westerling dan membuat kendaraan yang ditumpangi kedua tentara APRIS itu terjungkal seketika. Setelah menembak, mobil Westerling segera dipacu ke arah pelabuhan. Sempat terjadi baku tembak antara pengawal Westerling di Pelabuhan II Tanjung Priok dengan pasukan Brenthel Soesilo. Di tengah pertempuran kecil itulah, Westerling meluputkan diri ke Singapura dengan bantaun sebuah pesawat Catalina milik Angkatan Laut Belanda.

Karena masuk tanpa izin, Westerling ditahan pihak keamanan Inggris di Singapura begitu sampai. Mendengar kabar tersebut, Pemerintah RIS melayangkan permintaan kepada otoritas Singapura untuk mengekstradiksi Westerling ke Indonesia. Namun dengan alasan Westerling adalah warga negara Belanda, pengadilan Singapura tidak bisa memenuhi permintaan tersebut.

Setelah dibebaskan, Westerling terbang menuju Amsterdam, Belanda melalui jalur Kairo dan London. Namun di London, petugas menutup akses masuk untuknya. Kehabisan akal, ia terbang menuju Brussels, Belgia. Dikutip harian Montreal Gazette terbitan Kanada 25 Agustus 1950, Westerling tiba pada 23 Agustus 1950 dan langsung ditangkap otoritas Belgia.

Menghindari kontroversi di negerinya, setelah dilepas otoritas Belgia, Westerling memilih menetap sejenak di Brussels. Setelah situasi dirasa aman, Westerling akhirnya bisa kembali ke Belanda dan hidup di sana hingga ajal menjemput.

Apa saja gejala orang yang terkena gagal ginjal?

Gagal ginjal, atau dikenal juga sebagai gagal fungsi ginjal, terjadi ketika ginjal tidak mampu menjalankan fungsi utamanya dalam menyaring limbah, kelebihan cairan, dan menjaga keseimbangan elektrolit dalam tubuh.

Gejala orang yang terkena gagal ginjal bisa bervariasi tergantung pada tingkat keparahan dan penyebabnya.

Berikut adalah beberapa gejala umum yang sering muncul:

Gejala Gagal Ginjal Akut (tiba-tiba)

Penurunan jumlah urine atau bahkan tidak buang urine sama sekali.

Pembengkakan pada tangan, kaki, atau wajah akibat penumpukan cairan.

Sesak napas karena cairan menumpuk di paru-paru.

Kelelahan dan kelemahan yang ekstrem.

Mual dan muntah.

Nyeri atau rasa tidak nyaman di area pinggang atau punggung.

Perubahan kesadaran atau bingung karena akumulasi zat beracun dalam darah.

Gejala Gagal Ginjal Kronis (perkembangan lambat)

Kelelahan dan kehilangan nafsu makan.

Mual dan muntah.

Pembengkakan (edema), terutama di kaki, pergelangan kaki, dan wajah.

Perubahan jumlah dan warna urine, bisa berkurang atau mengandung darah.

Gatal-gatal yang tidak hilang.

Kesulitan bernafas.

Kebingungan atau gangguan mental.

Kram otot dan nyeri.

Kulit kering dan kusam.

Catatan Penting:

Pada tahap awal, gejala bisa sangat ringan atau bahkan tidak terasa sama sekali.

Jika tidak ditangani, gagal ginjal bisa menyebabkan komplikasi serius seperti keracunan darah, gangguan elektrolit, dan gagal organ lain.

Jika Anda atau orang terdekat menunjukkan gejala tersebut, sangat penting untuk segera berkonsultasi ke dokter untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.

Pengobatan dini sangat penting untuk mencegah kerusakan ginjal yang semakin parah.

Kesalahan apa aja yang bisa buat PC cepet rusak? Lalu kalo PC dimainkan 16jam/hari untuk main game apakah ball cepat rusak?

Pertanyaan bagus banget, dan penting buat kamu yang sering pakai PC lama-lama, apalagi buat gaming. Berikut ini penjelasan:

Kesalahan Umum yang Bikin PC Cepat Rusak

1. Sirkulasi Udara Buruk / Overheating

Debu numpuk, fan gak dibersihin

Casing tertutup rapat tanpa airflow

Pasta thermal kering

Ini bisa bikin CPU, GPU, dan motherboard cepat panas → rusak atau throttling.

2. Main Game Berat Terus-Terusan Tanpa Cooling Tambahan

Suhu tinggi terus-terusan bikin komponen aus

PSU bekerja ekstra keras → bisa cepat jebol

3. ❌ Colokan Listrik Tidak Stabil / Tanpa Stabilizer

Listrik naik-turun bisa bikin PSU, motherboard, bahkan SSD rusak tiba-tiba.

Apalagi kalau sering mati mendadak.

4. Jarang Update Driver / BIOS / Windows

Driver lama bisa bikin crash atau merusak hardware pelan-pelan

Software bug bisa menyebabkan overvoltage/error loop

5. Nggak Pernah Bersihin Debu

Debu bisa nutup heatsink, bikin fan melambat, dan panas menumpuk

Juga bisa short circuit kalau parah banget

6. Overclock Asal-asalan

Kalau kamu overclock tapi gak ngerti voltase dan suhu aman, bisa bikin CPU/GPU cepat aus bahkan mati total.

7. Pakai Power Supply Murahan

PSU abal-abal = bom waktu. Bisa meledak dan ngerusakin semua komponen lain.

Apakah PC Akan Cepat Rusak Kalau Main Game 16 Jam per Hari?

Jawaban: Tidak langsung rusak, tapi…

Umur komponen akan lebih pendek kalau kamu:

Gak jaga suhu (CPU/GPU >85°C terus)

Gak pakai cooling cukup

Gak kasih waktu istirahat (minimal 1–2 jam idle per hari bagus)

Pakai VGA dan PSU kelelahan tanpa ventilasi

Komponen yang paling cepat aus:

Fan (CPU/GPU/Case) → bearing bisa aus

Hard Disk (kalau bukan SSD) → platter-nya lelah

Thermal paste → kering dalam 1–2 tahun

PSU → paling rentan kalau 80% load terus-menerus

✅ Tips Supaya PC Awet Meski Dipakai Lama:

Pakai cooling yang baik (airflow, exhaust fan, atau AIO)

Gunakan PSU berkualitas dan minimal 80+ Bronze

Bersihkan debu rutin (tiap 2–3 bulan)

Monitor temperatur CPU/GPU pakai software kayak H Monitor

Ganti thermal paste tiap 1–2 tahun

Pakai UPS atau stabilizer untuk jaga listrik stabil

Berita Sebelumnya

 

Wisata

Otomotif

Fashion

Politik

Teknologi

Mancanegara

Bisnis

Dunia kerja

MKN

Game

Entertainmen

Kriminal

Blog punya © 2014 info-gamepc
Desain Modification by Ahmad Safei